Introspeksi Diri

“Hisablah (introspeksilah) diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Swt kelak. Bersiaplah menghadapi hari perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia” (Umar Ibn al-Khatab dalam Al-Mubarakhfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ al-Tirmidzi)).

Setiap muslim wajib melakukan introspeksi atau perenungan terhadap dirinya; apakah dia sudah menjadi seorang muslim yang baik, sudah melakukan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, ataukah justru sebaliknya; masih sering melalaikan kewajiban dan belum bisa meninggalkan seluruh larangan. Orang yang senantiasa melakukan introspeksi terhadap dirinya, akan selalu merasa dalam pengawasan Allah Swt dan merasa takut akan adzab-Nya dalam semua perbuatan yang dia lakukan ataupun yang dia tinggalkan. Otomatis, dia jarang sekali berbuat salah saat menunaikan kewajiban dan dia akan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan serta berusaha menunaikan kewajibannya baik kepada Allah, juga kepada sesama manusia.

Terkait ini Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,dan mereka juga bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan. Dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (QS. Al-Mukminun: 57-61).

Orang yang senantiasa menghadirkan Allah Swt dalam dirinya, mengintrospeksi diri dan menekan nafsu agar melaksanakan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan menghindari dosa, maka hatinya akan baik serta baik pula hasil akhirnya. Allah Swt berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat: 40-41).

Dia juga akan senantiasa bersabar dalam beribadah kepada Allah, sebagai wujud ketaatannya kepada-Nya sebagaimana firman Allah Swt, “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65)Dan firman-Nya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Orang yang senantiasa mengoreksi dirinya, dia akan banyak memiliki kebaikan dan sedikit keburukan. Dia akan datang menemui Rabbnya dalam keadaan ridha dan diridhai. Dia akan dimasukkan ke dalam surga bersama para nabi, shiddiqin (orang-orang yang jujur), para syuhada, orang-orang shaleh, dan mereka itulah sebaik-baik teman. Oleh karena itu, hendaklah kita mengoreksi diri atau bermuhasabah dalam kondisi apapun juga. Bahkan kita harus mengoreksi diri kita dalam setiap niatan dan hal-hal yang berkecamuk dalam dada kita. Sebab Allah menegaskan, “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah: 235).

Jika setiap muslim saat mendapatkan sesuatu yang  belum jelas hukumnya, lalu dia menanyakan kepada dirinya namun dia tidak mengetahui hukum permasalahan itu, maka hendaklah ia meninggalkannya, tidak memaksakan untuk mengamalkannya apalagi mendakwahkannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw: “Kebaikan itu yaitu sesuatu disenangi jiwa dan hati. Sedangkan dosa yaitu sesuatu yang bergolak dalam jiwa, ragu-ragu serta engkau tidak suka dilihat oleh orang (saat melakukannya).

Yang dimaksud dengan kata nafsun (jiwa) dalam hadis di atas adalah jiwa yang muthmainnah. Jiwa yang cinta kepada apa yang dicintai Allah dan benci kepada apa yang Allah benci. Jiwa yang percaya penuh kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya dalam segala urusan. Sedangkan hati yang dimaksudkan dalam hadis ini adalah hati yang selamat dari hal-hal syubhat dan syahwat. Inilah hati yang dapat mengidentifikasi kebaikan dan keburukan saat terjadi kesamaran. Adapun jiwa yang sakit, yang terinfeksi syubhat dan syahwat, maka tidak ada lagi perkara yang rancu baginya. Jiwa yang demikian akan membenci apa yang Allah cintai, dan mencintai apa yang Allah benci. Dengan demikian tidak ada lagi yang membendungnya dari perbuatan haram .

Sehubungan dengan ini, Allah Swt berfirman: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. Sementara orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 7).

Bermuhasabah serta berpegang teguh dengan sunnah merupakan jalan selamat. Adapun orang yang mengekor kepada hawa nafsunya dan melepaskannya tanpa kendali, maka sungguh buruk akibat yang akan menimpanya. Allah Swt berfirman, “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya” (QS. An-Naaziat: 37-39).

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa mengoreksi diri kita atau memuhasabah diri kita. Dengan cara senantiasa mengintrospeksi diri sebelum tiba saat dihisab oleh Allah Swt Yang Maha Adil. Dalam muhasabah ini kita bertanya kepada diri kita masing-masing; amalan shalih apa yang telah kita perbuat untuk Islam? Sudahkan kita ini termasuk orang-orang yang senantiasa menghormati dan mengagungkan syari’at  Allah Swt? Kemudian, apakah kita ini termasuk orang-orang yang senantiasa menjauhi larangan-larangan serta hal yang mendatangkan murka Allah? “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 30)

Kemudian juga, sudahkah kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengagungkan sunnah-sunnah Nabi-Nya dengan cara mengikuti dan mengajarkan sunnahnya? Apakah hak-hak kedua orang tua kita sudah kita tunaikan atau bagaimana? Adakah kita ini masuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bertaubat? Kemudian, sudahkah kita senantiasa berusaha menambah ilmu kita dengan terus belajar dan belajar?

Sesungguhnya Allah Swt telah mewajibkan kita untuk menjumpai-Nya di akhirat dengan amal perbuatan, bukan hanya sekedar pengakuan yang hampa dari bukti. Allah Swt mewajibkan kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan ikhlas serta penuh ketundukan. Dan sesungguhnya Dia akan memuliakan orang-orang yang memuliakan-Nya dan menghinakan orang yang menghinakan-Nya.

Sungguh introspeksi diri yang dilakukan oleh seseorang, baik dalam perbuatan yang kecil ataupun yang besar sambil terus berpegang dengan sunnah, merupakan jalan selamat yang akan menghantarkan kepada keridhaan Allah Swt. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“ (QS. Al-Hasyr: 18). Sebaliknya, orang yang tidak mau introspeksi diri (muhasabah), biasanya akan membuat dia mengalami kematian jiwa. Dia merasa tidak ada lagi yang kurang dengan dirinya. Dia juga merasa baik-baik saja dengan kegiatannya sehari-hari. Padahal boleh jadi imannya sudah rapuh, ketakwaannya makin berkurang, shalatnya tidak lagi khusyuk, amal shalihnya sudah jauh minus. Sementara itu dosa-dosanya terus bertambah, semangat keagamaan semakin hilang, dan akhlaknya makin menjauh dari nilai-nilai keislaman. Dia juga tidak memiliki lagi keikhlasan. Ketawadu’an nya juga sudah sirna, dan sifat amanah juga tidak bisa diharapkan lagi.

Dengan kata lain, orang yang tidak mau bermuhasabah (introspeksi diri), biasanya tidak akan lagi merasa berdosa setelah berbuat salah. Dia juga tak lagi merasa terbebani kalau belum menunaikan kewajiban. Dia juga tak malu lagi melakukan yang haram. Bahkan orang seperti ini tak segan-segan menghalalkan segala cara demi tujuan dan keinginnnya tercapai dengan mudah.

Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang rajin menghisab diri (melakukan introspeksi) sekaligus menjauhkan diri dari kelalaian muhasabah diri ini.. Amiin yaa Rabbal ‘Alamiin.

Artikel Renungan Hati Lainnya : staincurup.ac.id