Kewajiban Orang Tua Mendidik Anak

STAIN UNIVERSITY – Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan anak. Sebagai contoh adalah, bahwa Rasulullah Saw memerintahkan umatnya agar memilih wanita shalihah sebagai istri. Dari istri yang shalihah ini, diharapkan akan lahir anak-anak yang saleh (salehah) pula dan kokoh dalam beragama. Sebab, seorang ibu memiliki peranan yang dominan dalam membangun pondasi dan mencetak generasi, karena dialah yang mendidik anak-anak dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kedatangan Islam dalam mendidik ini, juga bisa dilihat dalam hadis beliau yang memerintahkan kepada orang tua agar mengajar anak-anaknya shalat ketika menginjak usia tujuh tahun. Kalau berumur sepuluh tahun, maka sudah boleh dipukul sekiranya mereka tidak mau mengerjakan shalat. “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Perintah mengerjakan shalat berarti juga mencakup hal-hal yang berkaitan dengan shalat. Misalnya, tata cara shalat, tata cara wudhu, dan hukum shalat berjamaah di masjid bagi anak laki-laki. Alhasil, pun anak-anak akan mengenal dan dekat dengan sesama kaum muslimin. Islam juga memperbolehkan para orang tua untuk memukul anaknya jika mereka enggan melaksanakan shalat. Tetapi yang harus diperhatikan, pukulan tersebut adalah pukulan dalam batasan-batasan mendidik, bukan pukulan yang membahayakan lagi emosional, bukan juga pukulan permainan sehingga tidak menimbulkan efek jera pada anak.

Namun kita lihat pada masa ini, pukulan sebagai salah satu metode mendidik, banyak ditinggalkan orang tua. Dalih yang disampaikan biasanya karena rasa sayang kepada anak ataupun ancaman pelanggaran HAM pada mereka. Padahal rasa sayang yang sebenarnya adalah diwujudkan dengan pendidikan. Dan salah satu metode pendidikan adalah dengan memukul sesuai dengan kadar dan ketentuannya saat anak melakukan pelanggaran syariat yang layak diberi hukuman dengan pukulan.

Rasulullah juga memerintah para orang tua supaya memisahkan tempat tidur anak-anak yang telah memasuki usia sepuluh tahun. Maksud pemisahan ini, menjaga norma-norma hubungan antara saudara laki-laki dan perempuan karena dalam hal tertentu ada kebiasaan-kebiasaan alamiah dan tingkah laku perempuan yang dia enggan apabila dilihat oleh laki-laki, demikian juga sebaliknya.

Dengan demikian, orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka saat mereka tidur, apalagi saat mereka terjaga, mereka keluar rumah, dan bergaul dengan lingkungannya. Orang tua harus memperhatikan anaknya, menjauhkannya dari pergaulan buruk dan tidak benar. Pendidikan tidak hanya terjadi pada saat mereka berada di rumah, namun juga harus diberikan tatkala anak-anaknya berada di luar rumah. Hendaknya orang tua mengetahui kemana dan dengan siapa anak-anaknya bergaul. Orang tua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

 “Setiap kalian adalah pemimpin (orang yang memiliki tanggung jawab). Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejatinya, setelah sang anak menjadi baik atau tumbuh menjadi generasi yang shaleh, maka kebaikan anak tersebut juga untuk orang tua dan keluarganya, dan secara umum untuk kaum muslimin. Rasulullah Saw berabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo’akan ibu bapaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan seorang anak dengan kebaikan dan ketaatannya, memiliki manfaat dan pengaruh yang besar bagi para orang tua, baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Ketika orang tua masih hidup, sang anak akan menjadi hiburan, kebahagiaan dan penyejuk hati. Dan ketika orang tua sudah meninggal dunia, maka anak-anak yang shalih senantiasa akan mendoakan, beristighfar dan bershadaqah untuk orang tua mereka.

Sebaliknya, betapa malang orang tua yang anaknya tidak shalih dan durhaka. Anak yang durhaka tidak bisa memberi manfaat kepada orang tuanya, baik ketika masih hidup maupun saat sudah meninggal. Orang tua tidak akan bisa memetik buahnya, kecuali hanya kerugian dan keburukan. Alih-alih menjadi kebanggaan keluarga, mereka justru seringkali buat malu keluarga dan menjadi beban di dunia akhirat. Keadaan seperti ini bisa terjadi jika para orang tua tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya.

Salah satu contoh dalam pendidikan yang benar, yaitu hendaklah para orang tua bersikap adil terhadap semua anak-anaknya. Rasulullah Saw mengingatkan kita, “Maka bertakwalah kalian semua kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anak kalian.” (HR. Bukhari).

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat memberi sesuatu kepada sebagian anak-anaknya sementara sebagian lain tidak mendapat bagian. Kemudian ia menghadap kepada Rasulullah supaya beliau bersedia menjadi saksi atas pemberian tersebut. Beliau kemudian bertanya, “Apakah semua anakmu engkau beri seperti itu?” Dia menjawab, “Tidak.” Kemudian Nabi bersabda, “Carilah saksi selain diriku, karena aku tidak mau menjadi saksi dalam keburukan. Bukankah engkau bahagia apabila memberikan sesuatu yang sama?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu beliau menanggapi, “Jika demikian, lakukanlah!”

Namun demikian, ada juga orang tua yang diingatkan tentang pendidikan anak, justru mereka malah menyanggah. Orang tua seperti ini mengatakan, bahwa kebaikan adalah di tangan Allah, atau hidayah terletak di tangan Allah. Memang benar hidayah berada di tangan Allah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Tentu yang perlu diperhatikan adalah faktor yang menjadi penyebab adanya kebaikan dan hidayah salah satunya ialah karena peran orang tua. Apabila para orang tua telah berperan secara maksimal dan telah menunaikan kewajiban dalam mendidik, maka masalah  hidayah kita serahkan kepada Allah Swt. Sedangkan jika orang tua lalai dan mengabaikan tarbiyah, maka Allah Swt akan memberikan balasan dengan kedurhakaan dan keburukan kepada anak. Ingatlah sabda Nabi Saw: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Karena itulah, umat Islam harus menyadari seutuhnya, betapa besar peranan orang tua terhadap anak. Orang tua memiliki tanggung jawab membentuk keimanan dan karakter anak. Dari orang tua itulah akan terwujud kepribadian seorang anak. Akhirnya, marilah kita menjaga fitrah anak-anak kita. Yaitu fitrah di atas kebenaran dan kebaikan. Karena yang kita lakukan atas diri anak, akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perhatian terhadap anak merupakan perkara yang sangat penting dan pertanggungjawaban yang besar di sisi Allah. Para manusia terbaik, yaitu para Nabi dan Rasul senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak dan keturunan mereka. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa, “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100). “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128).

Nabi Zakariya ‘alaihissalam berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS. Ali Imran: 38) Begitu juga dengan orang-orang shalih yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an, mereka berdoa, “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74).

Demikianlah para Nabi dan Rasul, meskipun kedudukan mereka dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tetap saja senantiasa berdoa penuh harap, memohon kepada Allah agar dianugerahi keturunan yang shalih dan shalihah. Jika demikian, bagaimana dengan kita? Tentunya kita harus lebih serius lagi. Oleh karena itu, marilah kita berdoa dan selalu berusaha memberikan pendidikan kepada anak-anak kita dengan berlandaskan agama yang lurus.