Mendengar Suara Hati

Dalam hidup, setiap manusia akan selalu berhadapan dengan kebaikan dan keburukan. Adakalanya kebaikan dan keburukan tersebut tampak nyata sehingga memudahkan manusia untuk memilih sikap; melakukannya jika itu baik, atau menjauhinya sekiranya itu buruk. Yang sulit adalah ketika antara kebaikan dan keburukan tersebut terlihat samar, sehingga meragukan manusia untuk memilih. Atau bisa jadi pada sesuatu itu terdapat kebaikan dan keburukan sekaligus, harta membingungkan manusia untuk memilih satu diantara keduanya.

Sebenarnya, ketika manusia sulit untuk membedakan antara kebaikan dengan keburukan, maka sesungguhnya ia dapat meminta pendapat dari hatinya sendiri untuk membedakan hal tersebut; apakah perbuatan yang dilakukannya itu termasuk kebaikan ataukah bukan? Dan membedakan hal seperti ini, sesungguhnya merupakan fitrah manusia. Dan manusia diminta untuk meminta pendapat dari fitrahnya.

Secara fitrah, manusia akan merasa terusik jiwanya, kehilangan ketentramannya, tertekan, dan gelisah manakala melakukan perbuatan dosa, atau jika merasa tidak suka perbuatan tersebut diketahui orang lain, maka akan menjadi semakin jelas perbedaan antara kebaikan dan keburukan tersebut. Pada gilirannya sekalipun manusia lain membenarkan perbuatannya tersebut, suara hati tetap akan berkata jujur.

Semua ini disebabkan oleh karena semua perbuatan tersebut akan berlabuh di hati manusia. Sedangkan hati merupakan sentral dari baik buruknya seseorang. Dalam sebuah hadtis yang diriwayatkan dari Khudzaifah Ra, Rasulullah Saw bersabda : ”Hati itu terpaparkan dengan fitnah-fitnah seperti tikar yang terurai sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang termakan dengan fitnah-fitnah tersebut (dengan melakukan kemaksiatan/dosa), maka akan ternoda hatinya dengan noda-noda hitam. Dan hati mana saja yang menolak fitnah-fitnah tersebut, maka akan terwarna dengan warna putih, hingga nanti hati tersebut akan menjadi satu diantara dua; (1) menjadi putih seperti shafa (sesuatu yang bersih dan jernih), maka hati seperti ini tidak akan terganggu dengan fitnah-fitnah lainnya selama masih ada langit dan bumi. Dan (2) menjadi hati yang hitam yang kelam seperti cangkir yang dibalikkan yang tidak dapat mengetahui suatu kebaikan dan tidak pula dapat mengingkari kemungkaran, kecuali dari apa yang dilakukan berdasarkan hawa nafsunya” (Muslim).

Baca Juga:  Islam, Pemilu dan Kekuasaan

Namun yang perlu digarisbawahi dalam masalah ini adalah bahwa tiada keraguan bagi sesuatu yang telah jelas diharamkan oleh Allah, ataupun yang telah dihalalkan Allah Swt. Adapun keraguan yang yang dimaksud dalam hadits ini adalah keraguan yang tidak jelas batasan antara hak dan batil, tidak ada larangan secara syar’i namun hati kita menjadi ragu serta gelisah karenanya. Terkait ini, Islam mengajarkan umatnya untuk membaca do’a : Ya Allah perlihatkanlah kepada kami yang benar adalah benar, kuatkan kami untuk mengikutinya dan perlihatkanlah kepada kami yang salah adalah salah, kuatkan kami untuk menjauhinya’.

Artikel Renungan Hati Lainnya : staincurup.ac.id